Date 03 April 2009 Berbicara tentang Gereja Perdana atau yang disebut dengan sebutan Gereja Orthodox, maka segera muncul pertanyaan: Gereja apakah itu dan aliran darimana ? Pertanyaan yang demikian ini muncul bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena keberadaan Gereja Orthodox ini, tidaklah dikenal dan tidak terlintas dalam pemikiran orang-orang Indonesia. Dengandemikian harus dikatakan paham Paulus tentang Gereja yang paling pokok dirumuskan dengan istilah "TUBUH KRISTUS" (bdk. 1Kor.12:27). Gereja tidak disebut "tubuh" karena kerjasama dan kesatuan antar anggotanya, tetapi oleh karena anggota bersatu dalam Kristus. Sifat kristologisnya membuat Gereja menjadi Tubuh (bdk. Jemaatmula-mula merupakan jemaat sederhana, sedangkan jemaat masa kini adalah jemaat yang kompleks. Jemaat perdana tidak ada gadget dan internet yang karenanya membuat orang makin selfish. Jemaat perdana, belum mengenal konflik ideologis antara kapitalis versus komunis, liberal versus komunitarian, modernism versi posmo, dst. MISIGEREJA MASA KINI Gereja yang hidup adalah gereja yang bermisi, gereja yang dengan sungguh-sungguh dan setia mencoba menjalankan setiap aspek kebenaran firman Tuhan di dalam kesehariannya. Memang itu bukan hal yang gampang, tetapi bukan tidak mungkin dicapai dan dilakukan. GerejaPerdana. Dengan menyertakan ayat 22, kiranya Gereja kalian mau menyampaikan sapaan baik bagi kawanan domba maupun bagi mereka yang bertugas memelihara kesejahteraan mereka. Bagi umat dan para pemimpin umat. Dengan gambaran itu, sebenarnya juga diberikan ruang bagi dimensi "keibuan" dari para pemimpin, bukan saya "kebapaaan" mereka. Apaperbedaan gereja perdana dan gereja masa kini Iklan Jawaban 3.6 /5 19 alfi8197 Jawaban: Gereja perdana yaitu membagi-bagikan,memecah-mecahkan roti. lalu gereja sekarang mengikuti tradisi dari gereja perdana yang diturunkan kepada gereja sekarang. bedanya,gereja sekarang memecah-mecakan roti dan di sebut perayaan ekaristi COPAS? TRIBUNPONTIANAKCO.ID - Ada 4 perbedaan mendasar ciri Gereja Katolik dengan gereja lainnya. Gereja Katolik mengenal 4 sifat dasar yakni satu, kudus, Katolik dan apostolik. Ungkapan ini tersirat Salahsatu pertanyaan yang cukup menarik untuk didiskusikan dalam hubungannya dengan sejarah Gereja Perdana adalah sejauh mana ada kesatuan atau perbedaan antara pandangan Petrus, Yakobus dan Paulus, serta sejauh mana pemikiran Paulus menentukan arah perkembangan Gereja di periode-periode selanjutnya. Kesatuan dan Perbedaan dalam Gereja SemuaGereja mempunyai garis besar, ajaran dan prinsip yang tidak jauh berbeda, karena Gereja yang baik adalah gereja yang benar-benar mendasari kokohnya gereja dengan ajaran Alkitab yang akan menuntun kita ke jalan yang selalu dikasihi-Nya. CaraHidup Gereja Modern Dalam Kehidupan Masa Kini dan Masa Depan. Bila dibandingkan dengan sejarah gereja mula-mula seperti cara hidup mereka diceritakan dalam Kisah Para Rasul 4:32-35; Cara hidup gereja di zaman modern cukup jauh berbeda saat ini. Selainitu di Gereja Ortodoks ada yang dikenal dengan Api Suci, atau api yang sering muncul di Paskah Gereja Ortodoks. Api Suci ini punya mukjizat yang luar biasa, seperti yang terjadi di Gereja Halyang tidak terbantahkan dilakukan oleh gereja masa kini adalah melakukan pemberitaan Injil di tempat-tempat di mana nama Kristus sudah dikenal orang. Maka yang terjadi adalah pemindahan jiwa dari satu gereja ke gereja lain, bukannya memenangkan jiwa. Memindahkan ikan dari satu kapal ke kapal yang lain, bukannya menjaring jiwa-jiwa. SEJARAHGEREJA MULA-MULA. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke Yerusalem dan menunggu di sana sampai Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka. Dengan kuasa yang diberikan Roh Kudus itu Yesus berjanji akan memperlengkapi murid-murid-Nya untuk menjadi saksi-saksi, bukan hanya di Yerusalem tapi juga Berikutini 12 point perbedaan agama Kristen Katolik Roma dan Kristen Protestan baik secara ritual peribadatan ataupun keyakinan yang dianut. 1. Agama Kristen Katolik Roma mengakui Paus sebagai Pemimpin tertinggi Gereja di dunia, -Agama Kristen Protestan tidak mengakui Paus. Ini adalah perbedaan paling utama antara Agama Kristen Protestan dan 1 Masalah yang Dihadapi Jemaat Gereja Modern Tantangan gereja masa kini berbeda dengan tantangan jemaat gereja mula-mula. Hal tersebut menyebabkan beberapa hal dari cara hidup dari jemaat gereja mula-mula tidak cukup relefan, atau sulit untuk dilakukan oleh jemaat gereja saat ini. 2WQnA0. Kesulitan Gereja pada Masa Sekarang Daftar Tantangan Gereja pada Masa Kini i. Tantangan Eksternal 2. Tantangan Internal three. Tantangan Individualisme Cara Melakukan Transformasi Hati Kesulitan Gereja pada Masa Sekarang – Tantangan gereja masa kini. Saat ini kita telah hidup di zaman yang jauh berbeda dengan zaman ketika Alkitab diturunkan. Pertanyaan yang kerap muncul adalah apakan Alkitab tetap relavan? Jawabannya sudah pasti ya, sebab Alkitab memang ditulis agar bisa digunakan oleh umat manusia sebagai petunjuk hidup yang kekal dan abadi. Pastinya, apa yang ditulis di Alkitab relevan hingga masa kini. Namun mungkin kesulitannya adalah ada beberapa tantangan gereja yang kerap terjadi sehingga keyakinan-keyakinan dan nilai mereka dalam menjawab tantangan logis masa kini kerap tidak maksimal. Secara garis besar ada berbagai jenis tantangan dalam gereja di masa kini, mulai dari tantangan eksternal, internal, dan individualisme. Tapi mungkin tak banyak yang menyadarinya sehingga tidak tahu. Maka dari itu pada kesempatan ini kami ingin menjelaskan dan membagikan kumpulan daftar hal-hal yang menjadi tantangan gereja di masa sekarang. Anda bisa menyimak ulasan lengkapnya di bawah ini. Daftar Tantangan Gereja pada Masa Kini Berikut di bawah ini adalah sejumlah tantangan dalam gereja yang mungkin tidak kita sadari lengkap dengan cara mengatasinya. Simak ulasannya pada pembahasan di bawah. i. Tantangan Eksternal Zaman postmodern pada masa sekarang telah berperan banyak untuk menghidupkan moralitas baru dengan standar pribadi, seperti jalinan sesama dan poligami. Standar tersebut bahkan tampak menjadi agama baru menggantikan kekristenan. Hal ini bertentangan bersama rencana Tuhan di dalam penciptaan Manusia Kejadian two18. Banyak pula propaganda, isu radikalisme agama, seperti propaganda, maupun beragam gerakan yang dijalankan oleh sekelompok orang yang tega melakukan tindakan ekstrim. Hal ini seolah-olah menyudutkan tiap-tiap gereja. Ini juga menghidupkan tanda-tanda intoleransi dan fanatisme agama serta ekslusivisme yang terlalu berlebih di dalam jalinan sosial keagamaan di masyarakat. Saat ini, banyak pemuda–pemudi Kristen mudah terjerat pada kesesatan informasi, provokasi, dan berita palsu yang menjadi viral di sarana sosial. Sehingga mereka sanggup menjadi sasaran utama rekrutmen grup radikal yang mengembangkan jaringan, sebagai berikut Maraknya beragam ajaran sesat dan bidat yang memiliki aliran-aliran sesat, seperti Gnostik, Mormonisme, Christian Science, Saksi Yehova dan sebagainya. Hal ini bertentangan bersama peringatan Yesus pada murid-muridNya Matius 243-14; 1 Timotius oneiii; Roma 1617 Penganiayaan pada orang-orang Kristen dianggap sebagai antisosial dan penyebab kerusuhan. Seperti yang dikisahkan berkenaan penganaiyaan pada Stefanus martir Kristen dan sejumlah jemaat Yerusalem Kisah Para Rasul 754-83. Manusia yang tambah pintar dan hidup jadi seakan-akan tidak ulang perlu Tuhan. Hal ini bertentangan bersama tekad Allah Roma 1216 “tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!”. Kehampaan hidup seringkali terjadi, meski diisi bersama beragam kecanggihan peradaban dunia. Contohnya adalah banyak gereja mencerminkan dunia bersama secara pragmatis menghalalkan segala cara. Hal berikut bertentangan bersama jemaat di Sardis udah menjaga reputasi mereka bersama langkah kompromi Wahyu threefour-half dozen. 2. Tantangan Internal Perpecahan gereja karena persoalan uang, beda penafsiran, perbedaan keperluan grup dan sebagainya 1 Korintus three 3. Perpecahan harus berjalan untuk menyaksikan siapakah yang tahan uji. Tetapi, jangan hingga kitalah yang menjadi sumber perpecahan itu. Kita harus ingat memang Yesus tidak berharap perpecahan Matius 1225. iii. Tantangan Individualisme Kadang manusia sangat sibuk dengan dunianya, contohnya adalah generasi milenial sering tergantung pada dunia maya. Sehingga gadget sudah menjadi berhala’ jenis baru. Terlihat berasal dari tiap-tiap jemaat jarang mempunyai printed bible karena Alkitabnya udah menjadi digital bible di HP atau Ipad. Bahkan lebih menyedihkan selama kebaktian berlangsung, mereka selamanya bermain sarana sosial, seperti Facebook, Instagram, dan sebagainya. Inilah permulaan hedonisme dan materialisme yang sering dijalankan oleh orang Kristen Yakobus 41-56; 1 Yohanes 2 15-17. Tidak tersedia kasih persaudaraan yang pengaruhi kompetisi individu apalagi antar bangsa. Contohnya adalah perzinahan dan perceraian. Banyak yang tidak pikirkan pada sesama dan tidak berkomitmen untuk memprioritaskan Alkitab sebagai pedoman utama di dalam hidup mereka. Cara Melakukan Transformasi Hati Kita sebagai anak Tuhan harus jalankan transformasi hati yang cocok bersama pandangan John Stott yang berisi “The heart of man gangguan is the gangguan of the homo eye”. Caranya untuk jalankan transformasi hati, diantaranya Perlu kerelaan hati untuk ulang dibentuk oleh Tuhan walau prosesnya tidak mudah. Kita harus berdiam diri di hadapan Tuhan untuk berharap Tuhan mengubah hati kita. Meskipun kita sebagai gereja memiliki cacatnya, tetapi kita akan dibentuk ulang oleh Roh Kudus pada selagi kita berkunjung kepada Tuhan. Harus mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun Roma 1419. Memberitakan Injil kepada siapa saja yang belum percaya. Memberitakan Injl adalah sebuah keharusan dan kewajiban bagi orang percaya untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk kemegahan diri 1 Korintus 916 supaya kita sanggup tahu maksud dan rencana Tuhan Matius 28 19. Harus bersatu dan sehati sepikir bersama pelayan – pelayan yang lain one Korintus 1ten-17; i Korintus 3nine. Tetapi pergunakanlah karunia yang tersedia pada kita untuk membangun tubuh kristus. Untuk membangun jemaat, kita adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah kepalanya 1 Korintus 1227; Efesus 530; 2 Timotius 224. Gereja harus tidak dulu jenuh untuk konsisten mengingatkan jemaatnya di mana tiap-tiap manuasi harus berperilaku yang benar atas gadget, yaitu secara regular dan indah jikalau kita menghalau gadget dan berkomunikasi verbal bersama keluarga kita di rumah atau bersama sesama di area lain. Walaupun susah dan tantangan yang sering dihadapi, kita harus selamanya setia mobilisasi perintah-Nya bersama memiliki hati yang peka pada sesama dan memiliki jiwa yang tulus supaya siapa saja ingin bertobat dan diselamatkan lantas meraih keselamatan, yang merupakan anugerah Tuhan Yohanes iii16; 1 Timotius iiiv; 2 Petrus 3nine. Akhir Kata Demikian ulasan pembahasan tentang tantangan gereja pada masa kini. Mudah-mudahan kita bisa memahaminya sekaligus mengantisipasinya dalam kehidupan bergereja sehari-hari. Baca Pengertian Ajaran Kristen Appearance Sejarah Gereja Appearance Masuk Republic of indonesia Tanggung Jawab Suami ke Istri dalam Kristen Tujuan penelitian ini adalah menganalisis model pelayanan jemaat mula-mula berdasarkan Kisah Para Rasul sebagai suatu teladan bagi gereja masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dan pengumpulan data melalui sumber Alkitab, buku, wawancara, maupun jurnal yang membahas topik yang sesuai kebutuhan. Terdapat suatu perbedaan yang mencolok dalam model pelayanan yang dilaksanakan oleh Gereja sebagai tubuh Kristus pada masa kini dan model pelayanan Gereja Perdana di mana terdapat keharmonisan dalam persekutuan, dan Tuhan menganugerahkan setiap hari penuaian jiwa-jiwa baru melalui pelayanan yang mereka laksanakan. Topik pembahasan ini sangat diperlukan oleh karena, pada saat ini terdapat banyak gereja yang tidak menunjukkan kualitas gereja yang sehat, sehingga berujung pada perpecahan di dalam jemaat itu sendiri. Hasilnya, jemaat mula-melayani dengan model kesehatian maupun kesatuan yang menumbuhkan Kerajaan Allah sebagai teladan bagi gereja masa kini, yaitu gereja yang sehat dan proaktif dalam menyaksikan Kristus. Maka kesimpulannya, Gereja sebagai lembaga rohani dan milik kepunyaan Allah pada hakikatnya harus sehat dengan menunjukkan ciri kesehatian dan kesatuan dalam kebersamaan jemaat, sehingga dengan demikian nama Tuhan dimuliakan. Kesehatian dan kesatuan berjalan bersama dan tidak mungkin dipisahkan, sebab tanpa salah satu dari kedua-duanya, kasih Kristus ditiadakan dan di mana tidak terdapat kasih, tidak juga terdapat keadaan gereja yang sehat. Sebab gereja yang sehat mengasihi dikarenakan di dalamnya jemaatnya sudah dipenuhi dengan kasih Kristus yang murni dan sempurna. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Formosa Journal of Multidisciplinary Research FJMR No. 3,2022 521-532 521 DOI prefik ISSN-E 2829-8896 Analisis Model Pelayanan Jemaat Mula-Mula Berdasarkan Kisah Para Rasul Suatu Teladan bagi Gereja Masa Kini Djone Georges Nicolas1* Sekolah Tinggi Teologi Katharos Indonesia ABSTRACT This study aims to analyze the early church ministry model based on the Acts of the Apostles as an example for the Church today. The method used is descriptive qualitative and data collection through Bible sources, books, interviews, and journals that discuss topics as needed. There is a striking difference in the model of service carried out by the Church as the body of Christ today and the model of the ministry of the Early Church, where there is harmony in communion, and God grants each day the harvest of new souls through the ministry they carry out. This topic of discussion is vital because, at this time, many churches do not show the quality of a healthy church, thus leading to divisions within the congregation itself. As a result, the early community served with a model of oneness and unity that fostered the Kingdom of God as an example for the Church today. namely the Church that is healthy and proactive in witnessing Christ. So, in conclusion, the Church, as a spiritual institution and belongs to God in essence, mus be healthy by showing the characteristics of oneness and unity within the congregation so that in this way, the name of God is glorified. Harmony and unity go hand in hand and cannot be separated, for, without either of the two, the love of Christ is abolished, and where there is no love, there is no healthy church because a healthy church loves. After all, in it, the congregation is filled with the pure and perfect love of Christ. Keywords Model; the Early Church, The apostle's story, Example, Church. Nicolas 522 ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menganalisis model pelayanan jemaat mula-mula berdasarkan Kisah Para Rasul sebagai suatu teladan bagi gereja masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dan pengumpulan data melalui sumber Alkitab, buku, wawancara, maupun jurnal yang membahas topik yang sesuai kebutuhan. Terdapat suatu perbedaan yang mencolok dalam model pelayanan yang dilaksanakan oleh Gereja sebagai tubuh Kristus pada masa kini dan model pelayanan Gereja Perdana di mana terdapat keharmonisan dalam persekutuan, dan Tuhan menganugerahkan setiap hari penuaian jiwa-jiwa baru melalui pelayanan yang mereka laksanakan. Topik pembahasan ini sangat diperlukan oleh karena, pada saat ini terdapat banyak gereja yang tidak menunjukkan kualitas gereja yang sehat, sehingga berujung pada perpecahan di dalam jemaat itu sendiri. Hasilnya, jemaat mula-melayani dengan model kesehatian maupun kesatuan yang menumbuhkan Kerajaan Allah sebagai teladan bagi gereja masa kini, yaitu gereja yang sehat dan proaktif dalam menyaksikan Kristus. Maka kesimpulannya, Gereja sebagai lembaga rohani dan milik kepunyaan Allah pada hakikatnya harus sehat dengan menunjukkan ciri kesehatian dan kesatuan dalam kebersamaan jemaat, sehingga dengan demikian nama Tuhan dimuliakan. Kesehatian dan kesatuan berjalan bersama dan tidak mungkin dipisahkan, sebab tanpa salah satu dari kedua-duanya, kasih Kristus ditiadakan dan di mana tidak terdapat kasih, tidak juga terdapat keadaan gereja yang sehat. Sebab gereja yang sehat mengasihi dikarenakan di dalamnya jemaatnya sudah dipenuhi dengan kasih Kristus yang murni dan sempurna. Kata Kunci Model, Jemaat Mula-Mula, Kisah Para Rasul, Teladan, Gereja Submitted 07-07-2022; Revised 14-07-2022; Accepted23-07-2022 Corresponding Author djonealexandrenathanael Formosa Journal of Multidisciplinary Research FJMR 2022 521-532 523 PENDAHULUAN Berbicara tentang jemaat dan pelayanan adalah pada kebiasaan topik yang dengan otomatis dikaitkan dengan dunia atau bidang rohani, sehingga menarik perhatian yang khusus dari hampir semua orang yang mendengarnya. Sebab jemaat berhubungan dengan karya Kristus dan iman kepada Dia yang adalah Kepala dan pemilik mereka yang telah ditebus-Nya. Maka pelayanan bukanlah perkara yang dapat dianggap enteng atau sekunder, tetapi keutamaan bagi setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Sebab pelayanan merupakan selain bentuk ucapan syukur kepada Tuhan atas kasih karunia yang menjadi bagian hidup orang-orang percaya, pelayanan juga menjadi sarana untuk menyaksikan Kristus kepada dunia. TINJAUAN PUSTAKA Nicolas, 2022 menyampaikan bahwa orang-orang beriman atau jemaat Allah seharusnya menyadari tanggung jawab mereka untuk berkorban dengan mengasihi sesama mereka dalam rangka memperlihatkan kasih Kristus yang tidak bercela dan tanpa batas dan juga tanpa syarat, sebab Gereja dihadirkan oleh Allah di tengah dunia dengan tujuan memperluas kerajaan-Nya. Sebagai organisasi dan organisme Ilahi, gereja sebagai Tubuh Kristus seperti yang disampaikan Rajagukguk, 2018 mempunyai tanggung jawab menjadi terang dan garam bagi sekitarnya, sehingga kondisi gereja selazimnya sehat. Gereja sebagai saksi Kristus mewakili Kerajaan Allah dan memiliki ciri-ciri yang khusus, sehingga nampak perbedaan antara gereja sebagai jemaat Allah dan orang-orang pada umumnya. Djone, 2021 menyampaikan bahwa gembala jemaat selaku pemimpin dalam sebuah gereja menjadi faktor yang penting dalam memastikan terdapat pertumbuhan yang baik di dalam gereja dalam rangka mempertahankan kekhususannya atau tetap dalam kondisi sehat. Sama halnya dengan peran besar para Rasul dalam Menurut Alex Stefanus Ginting, 2021 mengutip Peter Wongso, gereja sehat adalah gereja yang berfungsi dengan baik dan mengalami Nicolas 524 pertumbuhan secara rohani dan juga secara kuantitas. Namun, pada realitasnya terdapat sejumlah gereja yang tidak menunjukkan kriteria atau tanda gereja yang sehat, sehingga bukannya menjadi saksi dan terang, tetapi menjadi dipertanyakan status kekudusannya sebagai organisme Ilahi dan pengikut Kristus. Oleh karena itu, gereja yang sakit menurut Setiawan, 2019 menjadi alasan gereja tidak bertumbuh dan mempunyai sifat duniawi. Perselisihan demi perselisihan yang bahkan berujung kepada perpecahan gereja menjadi sebuah tren dikarenakan keinginan-keinginan daging dan sifat egois masih ditemukan dalam komunitas umat percaya tertentu, sehingga dengan jelas menggambarkan kondisi kesehatan gereja yang sesuai dengan yang seharusnya. Whitney, 2018 berpendapat bahwa dikarenakan kasih adalah tanda dan karakteristik Kekristenan, walau gereja mampu berkhotbah, bersaksi, mengajar, gereja tidaklah sehat tanpa tanda pertumbuhan dalam hal kasih yang merupakan hal yang paling spesial bagi umat Kristiani. Menurut Widi Artanto, 2008, gereja bukanlah Kerajaan Allah, tetapi gereja adalah instrumen atau alat dan tanda dari Kerajaan Tuhan yang akan datang di dunia. Maka, gereja melalui kasih sebagai ciri khas dan sebagai alat Tuhan dipanggil untuk berkarya di tengah dunia, sehingga melalui kesehatian dan kesatuan dalam kebersamaan, dunia menyaksikan sinar kemuliaan Kristus yang terpancar, sehingga menarik perhatian dan kerinduan dunia sekitar gereja kepada persekutuan orang percaya sebagai keluarga Allah. Gereja mula yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul 432 mencerminkan model gereja dan pelayanan yang ideal dan sehat di mana terdapat nilai-nilai kasih yang mengimplementasikan kehendak dan kerinduan hati Allah, dalam rangka menghasilkan kualitas dan perluasan Kerajaan-Nya di bumi. Itu searah dengan pendapat Yulia Darlin et al., 2020 yang menyatakan bahwa gereja perdana pada masanya saling mempraktikkan kasih satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, penulis sependapat dengan Rajagukguk dan Whitney bahwa gereja merupakan Tubuh Kristus yang mempunyai tanggung Formosa Journal of Multidisciplinary Research FJMR 2022 521-532 525 jawab menjadi terang dan garam bagi sekitarnya melalui kasih yang merupakan tanda dan ciri khas Kekristenan, sehingga berbeda pendapat dengan Widi Artanto, penulis melihat gereja bukan sekedar alat atau instrumen dari Kerajaan Allah yang akan datang, tetapi gereja benar-benar merupakan Kerajaan Allah di bumi oleh karena Kristus adalah Kepala gereja, dan Roh-Nya tinggal sebagai materai di dalam setiap orang percaya sehingga memungkinkan dan memampukan gereja bersinar dan menjadi saksi di tengah dunia melalui tindakan kasih yang nyata sebagai tanda gereja yang sehat. Maka, penulis bertujuan menganalisis model pelayanan jemaat mula-mula berdasarkan Kisah Para Rasul sebagai suatu teladan bagi gereja masa kini. METODOLOGI Tujuan penelitian ini adalah menganalisis model pelayanan jemaat mula-mula berdasarkan Kisah Para Rasul sebagai suatu teladan bagi gereja masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif eksegesis dan pengumpulan data melalui sumber Alkitab, buku maupun jurnal yang membahas topik yang sesuai kebutuhan. Penulis menganalisis teks Kisah Para Rasul 4 dalam rangka memperoleh teori-teori yang dasar atau Grounded Theory Moleong, 2021, dan juga mendeskripsikan teks secara holistik dan juga komprehensif H., 2020. HASIL PENELITIAN Latar Belakang Kisah Para Rasul Lukas merupakan penulis Kisah Para Rasul yang merupakan sambungan dari Injil Lukas yang ditujukan kepada Teofilus baik Injil yang mengisahkan kehidupan maupun ajaran dari Yesus dan juga karya Kristus yang telah menghasilkan sebuah gerakan yang mengguncangkan dunia karena tampil dengan nilai-nilai yang berbeda dari kebiasaan yang ada sebelumnya, sebab melalui jemaat-jemaat Allah sebagai gereja Tuhan, kewajiban mengasihi satu dengan yang lain menjadi standar gereja yang seturut dengan agenda dan Nicolas 526 panggilan Allah yaitu gereja yang sehat dan proaktif dalam menyaksikan Kristus. A. Gereja Sehat dan Proaktif Dalam Menyaksikan Kristus. Menyaksikan Kristus menjadi tugas gereja yang sesuai dan seirama dengan rencana Allah. Maka gereja yang dalam kondisi apa pun dan kapan pun waktunya perlu proaktif melaksanakan Amanat Agung yang telah diperintah dan juga dipercayakan oleh Allah. Jemaat Mula-Mula Melayani Dengan Model Kesehatian Maupun Kesatuan yang Menumbuhkan Kerajaan Allah Sebagai Teladan Bagi Gereja Masa Kini Gereja Perdana sebagai teladan dan pelopor bagi gereja masa kini hidup bukan saja dalam kebersamaan, tetapi juga dalam kesehatian. Sebab tidak secara otomatis kebersamaan identik dengan kesehatian. Hal tersebut dengan perpecahan yang terjadi di sebagian gereja di mana jemaat berkumpul setiap hari Minggu maupun tengah Minggu untuk melaksanakan berbagai kegiatan dalam kebersamaan, tetapi pada kenyataan dengan motivasi yang berbeda satu dengan yang lain. Namun, dalam jemaat mula berdasarkan Kisah Para Rasul 432, terdapat bahwa mereka sebagai umat Allah berkumpul dalam kesehatian dan satu pikiran yang disaksikan melalui kepedulian satu dengan yang lainnya. PEMBAHASAN Dalam Kisah Para Rasul 432 firman Tuhan menyatakan terdapat persekutuan orang-orang percaya dengan sehati dan sejiwa. Kata sehati yang dalam bahasa Yunani dengan istilah καρδιά atau “kardia” yang merujuk pada hati nurani yang juga berbicara tentang kemurnian hati, motivasi yang tulus terhadap sesama, yang tentunya diawali dengan takut dan cinta akan Tuhan. Kata yang kedua “sejiwa” yang dalam bahasa Yunani ψυχή atau disebut “psyche” dan yang dimaknai sebagai roh, akal budi atau pikiran. Jadi dapat dipahami bahwa istilah sehati dan juga sejiwa, berbicara tentang kesehatian yang terdapat di dalam persekutuan jemaat di mana motivasi dalam melayani adalah dengan kemurnian hati atau dengan hati nurani yang baik, sepikir dan Formosa Journal of Multidisciplinary Research FJMR 2022 521-532 527 satu tujuan dalam kehidupan bersama, yaitu memuliakan Allah. Hal ini searah dengan yang disampaikan oleh Eldista Limbongbua, 2022 bahwa kesehatian merupakan prioritas dalam satu persekutuan sehingga dengan demikian ego ditiadakan di dalamnya. Kisah Para Rasul 244-47 menggambarkan model pelayanan yang sama di mana kesatuan tetap menjadi ciri khas jemaat mula yang memiliki kebiasaan berbagi antara mereka dengan kasih, dalam rangka memenuhi kebutuhan kolektif dan mempertahankan kesehatian dalam persekutuan hari lepas hari dalam ketulusan hati, sukacita dan ibadah, sehingga mengakibatkan mereka menjadi perhatian dan kesukaan bagi semua orang yang terdapat di sekitar mereka, dan banyak orang diselamatkan melalui pelayanan mereka oleh anugerah Tuhan. Hal yang serupa di sampaikan oleh Ambarita, 2018 dengan menyampaikan bahwa dalam kehidupan jemaat perdana, terlihat mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kristiani walaupun pada kenyataannya mereka budaya dan latar belakang mereka sebagai pengikut sejati agama Yahudi. Kesehatian dilandaskan pada kesadaran akan status sebagai umat Tuhan yang memiliki panggilan dan tujuan hidup yang sama. Sebab melalui kelahiran baru, terdapat sebuah perubahan pola pikir yang seturut dengan apa yang dikehendaki Allah sebagai awal dan dasar dari tindakan apa pun yang akan dilakukan. Oleh karena itu, hati nurani jemaat mula terbukti setelah peristiwa hari Pentakosta berfungsi dengan benar sehingga mereka dalam berperilaku terdorong oleh motivasi yang murni dalam kebersamaan. Maka, Jevri Terok, 2017 berpandangan bahwa keselarasan menjadi kebutuhan di dalam persekutuan jemaat, sehingga dalam rangka mencapainya semuanya dalam kebersamaan harus mengusahakannya. Nicolas 528 Di lain sisi, kesehatian tidak dapat dipisahkan dari kesatuan dalam kebersamaan. Sebab tanpa kesatuan mustahil terdapat kesatuan di tengah jemaat, dan kesatuan merupakan buah dari kasih yang terdapat di hati setiap orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan pribadi dalam hidupnya. Maka, Kisah Para Rasul 432 mencatat bahwa bukan saja persekutuan orang percaya sehati dan sejiwa, tetapi juga di dalam persekutuan tersebut tidak terdapat satu orang pun yang menyampaikan atau menganggap memiliki sesuatu sebagai pribadi, namun apa pun yang adalah milik pribadi setiap mereka dijadikan milik bersama, tanpa membedakan siapa yang memberi lebih atau pun kurang. Apa bila diamati di dalam Kisah Para Rasul 61-5, Alkitab memberi keterangan bahwa ketika terjadi perselisihan antara jemaat akibat sungut-sungut dikarenakan terdapat kelalaian dalam pelayanan kasih yang seharusnya ditujukan kepada para janda-janda, sehingga para Rasul memandang perlu menertibkan mereka, tetapi dengan cara mengumpulkan semua dan dalam kesatuan dan kasih, bersama disepakati jalan apa langkah yang diperlukan untuk keharmonisan dan efisien pelayanan tetap menjadi bagian dari pelayanan mereka. Selain kesatuan tujuan dan visi, kepedulian di antara mereka menjadi sangat kuat sehingga sifat egois dengan sendirinya dilenyapkan. Oleh karenanya Mark Dever, 2013 berpendapat bahwa jemaat sebagai anggota gereja bertanggungjawab saling menunjukkan kasih dan simpati yang terungkap melalui kesatuan. kewajiban dan tanggung jawab anggota gereja kepada satu sama lain merangkumkan kehidupan kasih. Sebagai pengikut Yesus Kristus, orang Kristen wajib saling mengasihi. Apa bila tidak demikian, keangkuhan akan ambil alih dan pada akhirnya pasti terjadi perselisihan di dalam komunitas orang percaya, dan hal tersebut merugikan gereja dan tujuannya di dunia. Sebab di dalam gereja yang sehat, terdapat kesatuan yang membuahkan kesehatian sebagai penggerak bagi semua orang yang terdapat dalam kumpulan mereka yang mengiring Yesus dalam melaksanakan misi gereja sebagaimana seharusnya. Maka, Chamblin, Formosa Journal of Multidisciplinary Research FJMR 2022 521-532 529 2011 mengungkapkan bahwa pertengkaran dengan sesama berasal dari keangkuhan yang pada akhirnya membuat hubungan dengan Allah pun tidak baik. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Gereja sebagai lembaga rohani dan milik kepunyaan Allah pada hakikatnya harus sehat dengan menunjukkan ciri kesehatian dan kesatuan dalam kebersamaan jemaat, sehingga dengan demikian nama Tuhan dimuliakan. Kesehatian dan kesatuan berjalan bersama dan tidak mungkin dipisahkan, sebab tanpa salah satu dari kedua-duanya, kasih Kristus ditiadakan dan di mana tidak terdapat kasih, tidak juga terdapat keadaan gereja yang sehat. Sebab gereja yang sehat mengasihi dikarenakan di dalamnya jemaatnya sudah dipenuhi dengan kasih Kristus yang murni dan sempurna. Oleh karena itu, walaupun di era dan dengan figur yang beda, gereja masa kini dapat belajar dari pola pikir gereja mulai, sehingga sama seperti gereja mula, hasil luaran dari pelayanan yang dipraktikkan juga menghasilkan buah yang serupa dengan mereka sebagai pendahulu. PENELITIAN LANJUTAN Dalam rangka menindaklanjuti hasil penelitian ini, dengan menyadari ketidaksempurnaan naskah ini, penulis berencana meneliti tentang “Model Pelayanan Yesus Kristus dan Peran Roh Kudus Bagi Pertumbuhan Rohani Jemaat di Masa Pandemi”, sebab seperti diketahui, pandemi Covid-19 belum selesai dan gereja mengalami kesulitan dalam menentukan pola dan tipe pelayanan yang efektif dalam rangka memenuhi apa yang menjadi kebutuhan jemaat, mengingat pandemi yang memasuki babak baru berpotensi menambahkan tekanan secara psikologis bagi semua orang, termasuk orang-orang percaya. Nicolas 530 UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Sekolah Tinggi Katharos dan ketuanya, rekan dosen, jemaat Gereja Bethel Indonesia Parakletos Cengkareng, Ketua Yayasan Anak Bethel Indonesia atas dukungan dan semangat yang terus diberikan kepada penulis, sehingga dalam kemurahan Allah, naskah ini dapat rampung dalam anugerah Tuhan. Formosa Journal of Multidisciplinary Research FJMR 2022 521-532 531 DAFTAR PUSTAKA Alex Stefanus Ginting. 2021. Gereja sehat Tinjauan Biblika Tentang Konsep Gereja Sehat Berdasarkan Surat 1 Korintus 3. Prosiding Seminar Nasional STT Sumatera Utara, 11, 30–42. Ambarita, D. 2018. Perspektif Misi Dalam Perjanjian Lama & Perjanjian Baru. Pelita Kebenaran Press. Chamblin, J. K. 2011. Paulus Dan ajaranNya. Momentum. Djone Georges Nicolas, Soneta Sang Surya Siahaan, T. A. 2022. Krisis Kasih Dalam Gereja Sebagai Refleksi Bagi Kehidupan Orang Percaya Masa Kini. Jurnal Syntax Transformation, 34, 562–569. Djone Georges Nicolas, T. M. 2021. Krisis Keteladanan Kepemimpinan Gereja Fondasi Gembala Sebagai Pemimpin Gereja Berdasarkan 1 Petrus 52-4. Syntax Idea, 32, 283–290. Eldista Limbongbua. 2022. Kajian Teologis Kisah Para Rasul 432-37, Kaitannya Dengan Perilaku Hidup Jemaat Masa Kini. Jurnal TEO PB, 1. H., A. 2020. Metode Penelitian dan Perkembangan. Journal of Undergraduate, Social Science and Technology. 3–9. Jevri Terok. 2017. Mengatasi KetidakSelarasan Dalam Jemaat, Logon Zoes Jurnal Teologi. Logon Zoes Jurnal Teologi, Sosial Dan Budaya, 11, 18–31. Mark Dever. 2013. 9 Tanda Gereja Yang Sehat 2nd ed.. Momentum. Moleong Lexy J. 2021. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya. Rajagukguk, J. 2018. Pemimpin Dan Gereja Bertumbuh. Diegesis Jurnal Teologi. Setiawan, David Eko, D. Y. 2019. Signifikansi Salib Bagi Kehidupan Manusia Dalam Teologi Paulus. FIDEI Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 22, Nicolas 532 27–46. Whitney, D. S. 2018. Spiritual Check-up. Yayasan Gloria. Widi Artanto. 2008. Menjadi Gereja Yang Misioner Dalam Konteks Indonesia. Taman Pustaka Kristen. Yulia Darlin; Ragil Kristiawan; Rudy Chandra Saputra. 2020. Nilai-nilai Kehidupan Kristiani Menurut Kisah Para Rasul 432-37. JTS Journal of Theological Students, 101, 24–32. ... , hidup dan mati, dan mereka dipersatukan dengan tubuh kebangkitan Kristus dan dengan demikian dipersatukan dengan kehidupan ilahi, dipersatukan dalam kemuliaan Allah Theosis. Nicolas 2022 Untuk mengklarifikasi kelahiran sebagai titik awal Pendidikan karakter unggul dalam diri manusia, penulis memahami bahwa kelahiran baru adalah titik awal dalam pelatihan karakter yang sangat baik. Tanpa kelahiran baru, demikian pula harapan akan karakter yang lebih baik. ...Ernauli Maharani MarbunKurnia Novita HarianjaIrma Farida BatubaraGunawan PasaribuPenelitian ini dilatarbelakangi bahwa jemaat pemula perlu bertumbuh dan berbuah, berkenaan dengan hal itu kelahiran baru adalah penyatuan antara manusia dengan Kristus. Di dalam kehidupan yang baru, orang yang telah dilahir barukan itu memiliki persekutuan yang intim bersama Kristus, mereka dikenal dan dikasihi Allah. Sehingga warga gereja pemula akan mampu melayani dengan baik jika mereka dibina dengan baik pula. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini studi kualitatif deskriptif kepustakaan dengan menelaah berbagai literatur yang berkaitan dengan pokok masalah yang di bahas. Melalui kajian dan analisis yang mendalam diharapkan memberikan langkah-langkah strategi yang konkrit bagi Pembina dalam merencanakan dan melakukan pembinaan warga gereja pemula dengan efektif. Hasil penelitian ini memberikan langkah-langkah strategi dan model pembinaan rohani yang akurat dan terukur yaitu melalui pengajaran firman Tuhan, pelayanan khusus, pemuridan, kelompok kecil, dan melalui keterampilan Georges NicolasTirza ManaroinsongPresiden Jokowi sebagai pemimpin tertinggi Negara Republik Indonesia pada tanggal 13 Januari 2021 telah memberi teladan sekaligus membuktikan janjinya menjadikan dirinya orang pertama yang disuntik vaksin Covid-19 Sinovac. Kepemimpinan gembala yang pada dasarnya bertujuan melayani, merawat dan memenuhi kebutuhan jemaat sebagai domba-domba yang telah dipercayakan Tuhan sedang bergeser arah dan mulai kehilangan maknanya. Sebab kepemimpinan mulai digunakan sebagai “prestige” sang pemimpin dan sarana untuk meraih keuntungan pribadi, sehingga kepemimpinan gembala bukan lagi dipandang sebagai kepercayaan dan amanah dari Tuhan, tetapi menjadi tuntutan untuk dilayani dan mengabaikan keteladanan yang menjadi tanggungjawabnya bagi mereka yang dipimpinnya. Bukan lagi menjadi berkat, tetapi sebaliknya menjadi batu sandungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan analisa literatur, dengan tujuan menganalisa krisis keteladanan kepemimpinan gereja dan peran gembala sebagai pemimpin gereja berdasarkan 1 Petrus 52-4. Pengumpulan data melalui sumber buku-buku, jurnal-jurnal, wawancara, artikel digital, dan dokumen lain yang berkaitan dengan masalah yang dikaji. Hasil penelitiannya adalah Pertama, gembala sebagai pemimpin gereja perlu menyadari bahwa kepemimpinan-nya merupakan kepercayaan dan amanah dari Tuhan. Kedua, kualitas kepemimpinan gembala harus unggul dari kepemimpinan pada umumnya dengan memberi keteladanan melalui kesukarelaan dan pengabdian diri dalam melayani jemaat yang dipimpinnya. Ketiga, terdapat penghargaan yang bersifat kekal bagi gembala yang memimpin dengan memberi sehat Tinjauan Biblika Tentang Konsep Gereja Sehat Berdasarkan Surat 1 Korintus 3. Prosiding Seminar Nasional STT Sumatera UtaraAlex StefanusAlex Stefanus Ginting. 2021. Gereja sehat Tinjauan Biblika Tentang Konsep Gereja Sehat Berdasarkan Surat 1 Korintus 3. Prosiding Seminar Nasional STT Sumatera Utara, 11, Misi Dalam Perjanjian Lama & Perjanjian BaruD AmbaritaAmbarita, D. 2018. Perspektif Misi Dalam Perjanjian Lama & Perjanjian Baru. Pelita Kebenaran Georges NicolasSoneta Sang Surya SiahaanDjone Georges Nicolas, Soneta Sang Surya Siahaan, T. A. 2022. Krisis Kasih Dalam Gereja Sebagai Refleksi Bagi Kehidupan Orang Percaya Masa Kini. Jurnal Syntax Transformation, 34, Teologis Kisah Para RasulEldista LimbongbuaEldista Limbongbua. 2022. Kajian Teologis Kisah Para Rasul 432-37, Kaitannya Dengan Perilaku Hidup Jemaat Masa Kini. Jurnal TEO PB, Penelitian dan PerkembanganH., A. 2020. Metode Penelitian dan Perkembangan. Journal of Undergraduate, Social Science and Technology. TerokJevri Terok. 2017. Mengatasi KetidakSelarasan Dalam Jemaat, Logon Zoes Jurnal Teologi. Logon Zoes Jurnal Teologi, Sosial Dan Budaya, 11, Penelitian Kualitatif. PT Remaja RosdakaryaMoleong LexyMoleong Lexy J. 2021. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Dan Gereja Bertumbuh. Diegesis Jurnal TeologiJ RajagukgukRajagukguk, J. 2018. Pemimpin Dan Gereja Bertumbuh. Diegesis Jurnal SetiawanD Y EkoSetiawan, David Eko, D. Y. 2019. Signifikansi Salib Bagi Kehidupan Manusia Dalam Teologi Paulus. FIDEI Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 22, Nicolas 532 27-46. Apa Kamu Masih Beribadah Seperti Cara Gereja Mula-mula? seven Fakta Ini Perlu Kamu Tahu… Lori Official Writer Di masa Yesus, Dia dan murid-murid-Nya selalu berkumpul di hari pertama setiap minggunya. Mereka juga suka datang ke ibadah-ibadah di sinagoge dengan teratur. Tapi setelah kebangkitan Yesus, murid-murid-Nya tak lagi diterima di sinagoge. Hal ini mendorong murid-murid untuk mengadakan pertemuan mingguan mereka dengan berkumpul bersama. Tujuannya pun sangat sederhana yaitu untuk mengingat segala perbuatan Yesus. Itulah yang kemudian dikenal dengan kebiasaan gereja mula-mula. Tapi sekarang, tradisi berkumpul itu mulai berubah menjadi perkumpulan dengan tujuan yang berbeda-beda dari satu gereja dengan gereja yang lain. Gereja saat ini mulai kehilangan fokusnya kepada Tuhan sendiri. Ada beberapa gereja yang hanya berkumpul untuk tujuan belajar tentang bisnis, membangun diri sendiri, belajar soal moralitas dan belajar kunci menjadi kaya. Beberapa gereja lain berkumpul untuk mendengar khotbah atau guru terkenal. Alasannya bisa bermacam-macam. Padahal, orang-orang Kristen seharusnya menyadari kalau ada tujuan yang paling mendasar dari sekadar alasan seperti di atas. Berikut terdapat 7 perbedaan ibadah atau perkumpulan gereja mula-mula dengan gereja saat ini. Mereka biasanya berkumpul bersama untuk tujuan-tujuan ini. 1. Merayakan Hari Tuhan Jemaat gereja mula-mula berkumpul bukan untuk sekadar mencari pemuasan diri atau mencari pengetahuan rohani dari pendeta kenamaan. Tapi mereka berkumpul secara khusus untuk merayakan hari Tuhan. Mereka memfokuskan diri untuk mengingat soal kematian dan kebangkitan-Nya. Mungkin kita perlu memperbaiki bagaimana kita menyebutkan Hari Minggu’ dengan Hari Tuhan’. Salah satu referensi Alkitab yang mengingatkan kita soal hal ini adalah dari ucapan Yohanes di Wahyu 1 10, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala…” 2. Bersekutu dalam kesatuan Jemaat gereja mula-mula bersekutu dalam kesatuan. Mereka melakukan hal itu sebagai deklarasi bersama bahwa gereja Tuhan itu satu baca Roma 10 9, one Korintus 12 3, Filipi ii 6-eleven, one Timotius 2 5, three 16. Dari sinilah pengakuan Iman Rasuli ada sebagai janji iman orang percaya kepada tritunggal, Bapa, Putra dan Roh Kudus. 3. Mendengar firman Tuhan Sepanjang ibadah atau perkumpulan orang-orang percaya di jaman gereja mula-mula akan dipenuhi dengan pembacaan firman Tuhan. Mereka menjalankan ibadah pembacaan Alkitab bersama atau yang disebut dengan liturgi. Sebagian besar isi kitab suci akan dibacakan sembari mengajak semua umat berdiri, setelah itu duduk kembali. Kebiasaan ini persis seperti ibadah di sinagoge dan menjadi simbol dari penghormatan kepada firman Tuhan baca 1 Tesalonika 5 27 dan Kolose 4 16. iv. Berdoa bersama Sebagai jemaat yang menjunjung kesatuan, jemaat gereja mula-mula selalu ibadah dan berdoa bersama. Kita melihat contoh ini dalam Kisah Para Rasul four. “Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah..” Kisah 4 23-24a Para rasul juga selalu punya jam doa sebanyak tiga kali sehari. Doa-doa ini meliputi doa umum bagi semua orang. Baca Juga 12 Tingkah Nyeleneh yang Banyak Dilakuin Jemaat Gereja Saat Ibadah, Kamu Salah Satunya Gak five. Menghormati bait Allah Jemaat gereja mula-mula punya pemikiran yang sangat berbeda dengan gereja saat ini. Mereka percaya kalau saat beribadah, Tuhan dan juga malaikat-malaikat-Nya hadir di tengah-tengah mereka. Karena itulah mereka akan memasuki ruang maha kudus dengan penuh penghormatan, baik dari penampilan, sikap dan penyembahan. Mereka percaya bahwa menyembah Tuhan harus seperti yang dilakukan di surga. half-dozen. Kerap menggelar perjamuan kudus Gereja mula-mula kerap menggelar perjamuan kudus setiap minggunya. Mereka menyebutnya Ekaristi yang artinya perjamuan ucapan syukur. Perjamuan ini menjadi bentuk pernghormatan dan ucapan terima kasih kepada Yesus atas kematian-nya. Selain itu, mereka juga percaya bahwa dengan tubuh dan darah Yesus, mereka telah ditebus sepenuhnya dari dosa. Hal ini persis seperti yang dilakukan Yesus dalam peristiwa pelipatgandaan roti dan ikan. 7. Tetap menghormati Maria Orang Kristen mula-mula sangat menghormati peran Maria dalam keselamatan umat manusia melalui Yesus. Karena itulah mereka menyebutnya sebagai Pembawa Tuhan’ dalam artian wanita yang telah mengandung Tuhan. Karena itulah dia patut disebut dengan Bunda Allah’. Penghormatan ini masih sangat kental di Katolik. Sebaliknya, gereja karismatik maupun protestan Lutheran tak begitu menonjolkan Maria, namun rasa hormat atas kepatuhannya dan perannya dalam kedatangan Yesus tak pernah berkurang. Bagi gereja saat ini, Maria masih tetap jadi tokoh wanita Alkitab yang patut diteladani. Demikian beberapa fakta yang bisa kita pelajari dari cara hidup jemaat gereja mula-mula. Dan mari belajar untuk mengembalikan ibadah yang sejati kepada Tuhan. Jangan pernah mengubah tujuan penyembahan kita hanya untuk agenda-agenda duniawi kita. Sebab Tuhan memanggil gereja-Nya untuk memberitakan tentang kabar keselamatan yang dilakukannya kepada semua orang dan bangsa. Karena itulah Yesus harus jadi kepala atas setiap gereja-Nya. Sumber Halaman one Kesulitan Gereja pada Masa SekarangDaftar Tantangan Gereja pada Masa Kini1. Tantangan Eksternal2. Tantangan Internal3. Tantangan IndividualismeCara Melakukan Transformasi HatiKesulitan Gereja pada Masa – Tantangan gereja masa kini. Saat ini kita telah hidup di zaman yang jauh berbeda dengan zaman ketika Alkitab diturunkan. Pertanyaan yang kerap muncul adalah apakan Alkitab tetap relavan?Jawabannya sudah pasti ya, sebab Alkitab memang ditulis agar bisa digunakan oleh umat manusia sebagai petunjuk hidup yang kekal dan abadi. Pastinya, apa yang ditulis di Alkitab relevan hingga masa mungkin kesulitannya adalah ada beberapa tantangan gereja yang kerap terjadi sehingga keyakinan-keyakinan dan nilai mereka dalam menjawab tantangan logis masa kini kerap tidak garis besar ada berbagai jenis tantangan dalam gereja di masa kini, mulai dari tantangan eksternal, internal, dan individualisme. Tapi mungkin tak banyak yang menyadarinya sehingga tidak dari itu pada kesempatan ini kami ingin menjelaskan dan membagikan kumpulan daftar hal-hal yang menjadi tantangan gereja di masa sekarang. Anda bisa menyimak ulasan lengkapnya di bawah Tantangan Gereja pada Masa KiniBerikut di bawah ini adalah sejumlah tantangan dalam gereja yang mungkin tidak kita sadari lengkap dengan cara mengatasinya. Simak ulasannya pada pembahasan di Tantangan EksternalZaman postmodern pada masa sekarang telah berperan banyak untuk menghidupkan moralitas baru dengan standar pribadi, seperti jalinan sesama dan poligami. Standar tersebut bahkan tampak menjadi agama baru menggantikan kekristenan. Hal ini bertentangan bersama rencana Tuhan di dalam penciptaan Manusia Kejadian 218.Banyak pula propaganda, isu radikalisme agama, seperti propaganda, maupun beragam gerakan yang dijalankan oleh sekelompok orang yang tega melakukan tindakan ekstrim. Hal ini seolah-olah menyudutkan tiap-tiap gereja. Ini juga menghidupkan tanda-tanda intoleransi dan fanatisme agama serta ekslusivisme yang terlalu berlebih di dalam jalinan sosial keagamaan di ini, banyak pemuda–pemudi Kristen mudah terjerat pada kesesatan informasi, provokasi, dan berita palsu yang menjadi viral di sarana sosial. Sehingga mereka sanggup menjadi sasaran utama rekrutmen grup radikal yang mengembangkan jaringan, sebagai berikutMaraknya beragam ajaran sesat dan bidat yang memiliki aliran-aliran sesat, seperti Gnostik, Mormonisme, Christian Science, Saksi Yehova dan sebagainya. Hal ini bertentangan bersama peringatan Yesus pada murid-muridNya Matius 243-14; 1 Timotius 13; Roma 1617Penganiayaan pada orang-orang Kristen dianggap sebagai antisosial dan penyebab kerusuhan. Seperti yang dikisahkan berkenaan penganaiyaan pada Stefanus martir Kristen dan sejumlah jemaat Yerusalem Kisah Para Rasul 754-83.Manusia yang tambah pintar dan hidup jadi seakan-akan tidak ulang perlu Tuhan. Hal ini bertentangan bersama tekad Allah Roma 1216 “tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!”.Kehampaan hidup seringkali terjadi, meski diisi bersama beragam kecanggihan peradaban dunia. Contohnya adalah banyak gereja mencerminkan dunia bersama secara pragmatis menghalalkan segala cara. Hal berikut bertentangan bersama jemaat di Sardis udah menjaga reputasi mereka bersama langkah kompromi Wahyu 34-6.2. Tantangan InternalPerpecahan gereja karena persoalan uang, beda penafsiran, perbedaan keperluan grup dan sebagainya 1 Korintus 3 3. Perpecahan harus berjalan untuk menyaksikan siapakah yang tahan uji. Tetapi, jangan hingga kitalah yang menjadi sumber perpecahan itu. Kita harus ingat memang Yesus tidak berharap perpecahan Matius 1225.3. Tantangan IndividualismeKadang manusia sangat sibuk dengan dunianya, contohnya adalah generasi milenial sering tergantung pada dunia maya. Sehingga gadget sudah menjadi berhala’ jenis baru. Terlihat berasal dari tiap-tiap jemaat jarang mempunyai printed bible karena Alkitabnya udah menjadi digital bible di HP atau lebih menyedihkan selama kebaktian berlangsung, mereka selamanya bermain sarana sosial, seperti Facebook, Instagram, dan sebagainya. Inilah permulaan hedonisme dan materialisme yang sering dijalankan oleh orang Kristen Yakobus 41-56; 1 Yohanes 2 15-17.Tidak tersedia kasih persaudaraan yang pengaruhi kompetisi individu apalagi antar bangsa. Contohnya adalah perzinahan dan perceraian. Banyak yang tidak pikirkan pada sesama dan tidak berkomitmen untuk memprioritaskan Alkitab sebagai pedoman utama di dalam hidup Melakukan Transformasi HatiKita sebagai anak Tuhan harus jalankan transformasi hati yang cocok bersama pandangan John Stott yang berisi “The heart of human gangguan is the gangguan of the human heart”. Caranya untuk jalankan transformasi hati, diantaranyaPerlu kerelaan hati untuk ulang dibentuk oleh Tuhan walau prosesnya tidak mudah. Kita harus berdiam diri di hadapan Tuhan untuk berharap Tuhan mengubah hati kita. Meskipun kita sebagai gereja memiliki cacatnya, tetapi kita akan dibentuk ulang oleh Roh Kudus pada selagi kita berkunjung kepada Tuhan. Harus mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun Roma 1419.Memberitakan Injil kepada siapa saja yang belum percaya. Memberitakan Injl adalah sebuah keharusan dan kewajiban bagi orang percaya untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk kemegahan diri 1 Korintus 916 supaya kita sanggup tahu maksud dan rencana Tuhan Matius 28 19.Harus bersatu dan sehati sepikir bersama pelayan – pelayan yang lain 1 Korintus 110-17; 1 Korintus 39. Tetapi pergunakanlah karunia yang tersedia pada kita untuk membangun tubuh kristus. Untuk membangun jemaat, kita adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah kepalanya 1 Korintus 1227; Efesus 530; 2 Timotius 224.Gereja harus tidak dulu jenuh untuk konsisten mengingatkan jemaatnya di mana tiap-tiap manuasi harus berperilaku yang benar atas gadget, yaitu secara regular dan indah jikalau kita menghalau gadget dan berkomunikasi verbal bersama keluarga kita di rumah atau bersama sesama di area susah dan tantangan yang sering dihadapi, kita harus selamanya setia mobilisasi perintah-Nya bersama memiliki hati yang peka pada sesama dan memiliki jiwa yang tulus supaya siapa saja ingin bertobat dan diselamatkan lantas meraih keselamatan, yang merupakan anugerah Tuhan Yohanes 316; 1 Timotius 24; 2 Petrus 39.Akhir KataDemikian ulasan pembahasan tentang tantangan gereja pada masa kini. Mudah-mudahan kita bisa memahaminya sekaligus mengantisipasinya dalam kehidupan bergereja Ajaran Kristen AdventSejarah Gereja Advent Masuk IndonesiaTanggung Jawab Suami ke Istri dalam Kristen

perbedaan gereja perdana dan gereja masa kini